Jumat, 06 September 2013

When Abang None Jakarta Met AIESEC
Twitter: @dlaify

AIESEC EcoTourism Project 2013 at Faculty of Economic Universitas Indonesia

I got a lot of impressions about Jakarta from the participants of AIESEC around the world, especially about the real condition of Jakarta: the tourism, the environmental, the garbage, traffic jam, animal’s life, the government and most important, the people. There are about 38 participants around the world from 20+ different countries: Malaysia, Czech Republic, Germany, Taiwan, Belgium, Slovakia, Russia, Egypt, Morroco, etc (yet excluding Indonesia) join together in Jakarta to hold the EcoTouism Project 2013 Global Village. What a noble purpose! They have been here for 6 weeks and spending their time to learn about and compare Jakarta with other tourism destinations in Indonesia like Bali, Gili, Bandung and Jogjakarta..

All the participants are divided by seven groups which consist of seven until eight members each group. The name of each team is unique and easy listening. There are martabak, nasi hijau, jalan jalan , badak badak, bunga power, etc. Then, they travel to outside Jakarta as well. Next task, each group must created their own video to describe Jakarta with its positive and negative things.


When I’m at the venue, I have opportunity to see one of the stands from “Nasi Hijau” team. I see a kind of a blow instrument from Czech Republic on the table and it was so great. We have a short conversation with Sandra from Germany, Ondra from Czech Republic and other members. I try to ask them their impression about Jakarta and some members said that living in Jakarta is very hot and so crowded. Yes, I do agree because Jakarta is so hot, traffic jam and lack of trees. Another interesting moment is when I see the participant from Russia writing the words “Transportation is cheap, but soooo slow” on the paper. Yes, that’s our biggest homework to solve traffic jam problem.

The committees then play the video by video onto LCD projector. Then I found problem by problem - which Jakarta currently faces of - during the video playing. I read the statements from one participant about Ragunan zoo which is too old designed, has no eco-tourism concept and has nothing to learn. It’s so heart-breaking when I see the starving animals and they only sleep all day long. As well as the Jakartans, they think that the government doesn’t really pay attention to environmental because there’s another issue which makes the environmental issue becoming the 2nd or 3rd

While, each video also describes the beautiful side of Indonesia where (maybe) couldn’t find in other countries. They also do some green actions like planting coral reeves in Pramuka island, Seribu island, join with car free day in Sudirman – Thamrin street and give green education to Pocin Elementary School’s students. They believe someday Jakarta will be as beautiful as other tourism destinations in Indonesia and abroad if it balanced with the green action to make Jakarta becoming a nice place for every people who live there.

In short, thank you so much for sharing your experiences as long you’ve been here. Thank you so much for the chance you give to me.  Feeling so worth to stand among the all participants of AIESEC around the world. I appreciate all videos because the aims are not only to raise awareness, but also to persuade the people to take real action, green action to save Jakarta. I listened to a lot of critics, suggestions and solutions for the better Jakarta. All those messages will be always in my mind, in our to-do-list projects. Everything has silver linings. As tourism ambassadors, we promise to take care of the environment and make Jakarta becoming next green city in Indonesia. Hey AIESEC? What’s up!



Best Regards,
Dlaify Bruinsma.
2nd Runner Up Abang East Jakarta 2013
Universitas Indonesia

Senin, 22 April 2013

Mendefinisikan Kembali Hakekat Hemat Energi
Twitter: @dlaify


Ketika berbicara mengenai bumi, maka kata lain yang sangat identik dengannya adalah kata “hijau” atau “green”. Kata “hijau” ini seringkali diasosiasikan dengan kata “pohon” oleh masyarakat awam. Tentunya persepsi tersebut merupakan hal yang relevan, namun perlu kita ketahui adalah makna kata “hijau” sebenarnya tidak sekedar mengacu pada pohon saja. Melainkan mencakup segala aspek yang baik bagi lingkungan. Istilah “Bumi yang Hijau” bukanlah sekedar bumi yang penuh dengan pepohonan nan rindang, tetapi juga diisi oleh budaya hidup yang ramah lingkungan.

Berbicara mengenai budaya hidup yang ramah lingkungan, saat ini seluruh umat manusia memang tengah terlibat di dalam budaya ini, hanya saja sebagian dari kita tak serta merta menyadarinya. Bumi kita kini tengah dilanda berbagai persoalan yang sangat berat, kompleks dan masif. Bumi sejak dulu kala telah menjadi tulang punggung atas berangkai – rangkai kebutuhan para penghuninya. Bumi juga sama seperti manusia. Ia pernah bahagia, pernah sedih, pernah sakit bahkan marah. Sayangnya, saya merasa bumi kita kini tengah sakit dan juga marah. Sakit karena mulai tak sanggup menopang beban atas segala kebutuhan kita dan marah karena semakin sedikit dari kita yang konsisten peduli dengannya. Saya yakin sebagian besar dari anda sepakat dengan apa yang saya katakan. Manusia sebagai kelompok mahluk hidup yang paling sempurna di muka bumi tentu memiliki peranan maha penting dalam menjaga kelestarian bumi. Melalui tulisan ini, saya ingin mengajak khalayak untuk merubah persepsi atau pola pikir tentang pentingnya memelihara bumi.

Dalam rangka memperingati Hari Bumi Sedunia yang jatuh pada 22 April 2013 ini, saya ingin mengajak khalayak luas untuk kembali aware dan menerapkan budaya hidup yang ramah lingkungan dengan cara “merubah” pola pikir konvensional yang selama ini kita anut.


Urgensi Budaya Hidup Hemat

            Budaya hidup hemat merupakan kebiasaan positif yang perlu kita tiru dan diaplikasikan dalam kehidupan sehari – hari. Budaya hidup hemat ikonik dengan khalayak yang melakukan penghematan dalam kegiatan konsumsi supaya memperoleh surplus dalam hal ekonomi. Misalnya, menghemat pengunaan air, listrik, bahan bakar kendaraan dan sebagainya. Hanya saja yang ingin saya tekankan disini yaitu mengenai “apa tujuan anda berhemat?”. Mengapa kita terbiasa mematikan keran air setelah menggunakan toilet? Mengapa kita cenderung mematikan lampu di siang hari? Alasan yang kemudian sering muncul dibenak kita adalah supaya tidak boros dan bisa berhemat. Kemudian dengan berhemat, maka pengeluaran akan dapat diminimalisir dan keuntungan secara finansial akan mudah didapat. pemikiran tersebut merupakan pemikiran yang tepat namun sayangnya sudah terlalu kuno untuk diterapkan pada zaman sekarang ini.

            Kita sebagai generasi modern yang hidup di Abad 21, dimana bumi telah mencapai tahapan maturity yang bila tidak dimantain dengan baik dengan pasti akan semakin terperosok pada tahap decline ini, sudah saatnya mengubah pola pikir menjadi lebih modern. Bagi saya, pemikiran konvensional hanya berfokus pada efisiensi dan sementara tuntutan besar terhadap realita saat ini adalah tuntutan budaya hidup ramah lingkungan yang bertujuan pada efektifitas dan efisiensi. Terdapat alasan yang lebih urgen menghemat energi dibanding alasan – alasan finansial.

            Ketika kita menghemat penggunaan air maupun listrik supaya tagihan tidak membengkak tentunya hal tersebut dapat diterima secara logika, namun ada alasan yang lebih darurat untuk melakukan penghematan. Saat ini bumi kita mengalami krisis air bersih, persediaan air tawar dari zaman dinosaurus hingga kini dan di masa depan nanti jumlahnya konstan, ia tidak akan bertambah namun berpotensi besar berkurang jumlahnya. Sementara kebutuhan akan air bersih (terutama untuk kebutuhan akan minum, mandi, cuci dan kakus) mutlak semakin meningkat seiring dengan peningkatan jumlah penduduk di dunia. Itu artinya manusia harus berkompetisi memperoleh air bersih dengan milyaran penduduk bumi lainnya. Persaingan tersebut nampaknya tak begitu mencolok di negara ini. Indonesia sebagai negara iklim tropis memiliki persediaan air bersih yang cukup untuk memenuhi kebutuhan penduduknya walaupun santer diprediksikan akan mengalami krisis air pada 2015. Namun bagaimana dengan kondisi negara – negara di belahan bumi lainnya? Negara Afrika Selatan sekaligus negara terkaya di benua tersebut rupanya mengalami krisis air yang berkepanjangan. Air sebagai salah satu pasokan tenaga listrik utama di Afrika persediannya kian menipis dan mengancam perekonomian negara tersebut. Sementara di Afrrika Tengah, masyarakat mengalami krisis air bersih dan krisis pangan yang disebabkan oleh perubahan iklim.

            Di Indonesia, krisis bahan bakar utamanya bahan bakar minyak (BBM) tak henti menghantui negara kita. Masih ingatkah dengan wacana pemerintah menganai kenaikan BBM Maret 2012 lalu yang membuat geger masyarakat? Pemerintah pada saat itu merasa kuwalahan memberi subsidi terhadap impor BBM yang permintaannya melonjak tajam melebihi kuota dan membebani APBN sehingga satu – satunya opsi ampuh yang dapat ditempuh yaitu dengan menaikkan harga bahan bakar. Namun tekanan dari masyarakat akhirnya membuat pemerintah mengurungkan niatnya. Masyarakat Indonesia sangat bergantung pada energi yang satu ini, energi yang menjadi roda kehidupan sehari – hari serta kemudahan memperoleh menjadi faktor yang membuat masyarakat Indonesia semakin konsumtif.

           Contoh – contoh diatas menujukkan bahwa bumi terus dieksploitasi isi perutnya guna memenuhi kebutuhan mahluk hidup yang tak terhingga batasannya. Sementara perhatian yang kita berikan rasanya berbanding timpang dengan sederetan manfaat yang telah bumi berikan bagi kita. Sudah waktunya kita merubah pola pikir, tidak sekedar bagaimana melakukan penghematan demi tujuan efisiensi, tetapi juga berhemat demi tercapainya efektifitas. Kemampuan bumi, terutama dalam menyuplai energi yang suatu saat nanti akan mencapai titik henti seharusnya menjadi refleksi bagi kita semua dalam menciptakan energi terbarukan sebagai alternatif atas energi yang tidak dapat diperbaharui dimana jumlahnya kian menipis. Hemat energi merupakan cara paling sederhana yang bisa dilakukan oleh kita semua. Yang terpenting adalah komitmen untuk senantiasa menjaga kelestarian dari kita untuk bumi tercinta. Selamat Hari Bumi Internasional


Salam Hijau!


Referensi: