Ketika berbicara mengenai bumi, maka
kata lain yang sangat identik dengannya adalah kata “hijau” atau “green”. Kata “hijau” ini seringkali
diasosiasikan dengan kata “pohon” oleh masyarakat awam. Tentunya persepsi
tersebut merupakan hal yang relevan, namun perlu kita ketahui adalah makna kata
“hijau” sebenarnya tidak sekedar mengacu pada pohon saja. Melainkan mencakup
segala aspek yang baik bagi lingkungan. Istilah “Bumi yang Hijau” bukanlah
sekedar bumi yang penuh dengan pepohonan nan rindang, tetapi juga diisi oleh
budaya hidup yang ramah lingkungan.
Berbicara mengenai budaya hidup yang
ramah lingkungan, saat ini seluruh umat manusia memang tengah terlibat di dalam
budaya ini, hanya saja sebagian dari kita tak serta merta menyadarinya. Bumi kita
kini tengah dilanda berbagai persoalan yang sangat berat, kompleks dan masif. Bumi
sejak dulu kala telah menjadi tulang punggung atas berangkai – rangkai kebutuhan
para penghuninya. Bumi juga sama seperti manusia. Ia pernah bahagia, pernah
sedih, pernah sakit bahkan marah. Sayangnya, saya merasa bumi kita kini tengah
sakit dan juga marah. Sakit karena mulai tak sanggup menopang beban atas segala
kebutuhan kita dan marah karena semakin sedikit dari kita yang konsisten peduli
dengannya. Saya yakin sebagian besar dari anda sepakat dengan apa yang saya katakan.
Manusia sebagai kelompok mahluk hidup yang paling sempurna di muka bumi tentu
memiliki peranan maha penting dalam menjaga kelestarian bumi. Melalui tulisan
ini, saya ingin mengajak khalayak untuk merubah persepsi atau pola pikir
tentang pentingnya memelihara bumi.
Dalam rangka memperingati Hari Bumi
Sedunia yang jatuh pada 22 April 2013 ini, saya ingin mengajak khalayak luas
untuk kembali aware dan menerapkan
budaya hidup yang ramah lingkungan dengan cara “merubah” pola pikir
konvensional yang selama ini kita anut.
Urgensi
Budaya Hidup Hemat
Budaya
hidup hemat merupakan kebiasaan positif yang perlu kita tiru dan diaplikasikan
dalam kehidupan sehari – hari. Budaya hidup hemat ikonik dengan khalayak yang melakukan
penghematan dalam kegiatan konsumsi supaya memperoleh surplus dalam hal
ekonomi. Misalnya, menghemat pengunaan air, listrik, bahan bakar kendaraan dan
sebagainya. Hanya saja yang ingin saya tekankan disini yaitu mengenai “apa
tujuan anda berhemat?”. Mengapa kita terbiasa mematikan keran air setelah
menggunakan toilet? Mengapa kita cenderung mematikan lampu di siang hari?
Alasan yang kemudian sering muncul dibenak kita adalah supaya tidak boros dan
bisa berhemat. Kemudian dengan berhemat, maka pengeluaran akan dapat
diminimalisir dan keuntungan secara finansial akan mudah didapat. pemikiran
tersebut merupakan pemikiran yang tepat namun sayangnya sudah terlalu kuno
untuk diterapkan pada zaman sekarang ini.
Kita
sebagai generasi modern yang hidup di Abad 21, dimana bumi telah mencapai
tahapan maturity yang bila tidak dimantain dengan baik dengan pasti akan
semakin terperosok pada tahap decline
ini, sudah saatnya mengubah pola pikir menjadi lebih modern. Bagi saya,
pemikiran konvensional hanya berfokus pada efisiensi dan sementara tuntutan
besar terhadap realita saat ini adalah tuntutan budaya hidup ramah lingkungan
yang bertujuan pada efektifitas dan efisiensi. Terdapat alasan yang lebih urgen
menghemat energi dibanding alasan – alasan finansial.
Ketika
kita menghemat penggunaan air maupun listrik supaya tagihan tidak membengkak
tentunya hal tersebut dapat diterima secara logika, namun ada alasan yang lebih
darurat untuk melakukan penghematan. Saat ini bumi kita mengalami krisis air
bersih, persediaan air tawar dari zaman dinosaurus hingga kini dan di masa
depan nanti jumlahnya konstan, ia tidak akan bertambah namun berpotensi besar
berkurang jumlahnya. Sementara kebutuhan akan air bersih (terutama untuk kebutuhan
akan minum, mandi, cuci dan kakus) mutlak semakin meningkat seiring dengan
peningkatan jumlah penduduk di dunia. Itu artinya manusia harus berkompetisi
memperoleh air bersih dengan milyaran penduduk bumi lainnya. Persaingan tersebut
nampaknya tak begitu mencolok di negara ini. Indonesia sebagai negara iklim
tropis memiliki persediaan air bersih yang cukup untuk memenuhi kebutuhan
penduduknya walaupun santer diprediksikan akan mengalami krisis air pada 2015. Namun
bagaimana dengan kondisi negara – negara di belahan bumi lainnya? Negara Afrika
Selatan sekaligus negara terkaya di benua tersebut rupanya mengalami krisis air
yang berkepanjangan. Air sebagai salah satu pasokan tenaga listrik utama di
Afrika persediannya kian menipis dan mengancam perekonomian negara tersebut.
Sementara di Afrrika Tengah, masyarakat mengalami krisis air bersih dan krisis
pangan yang disebabkan oleh perubahan iklim.
Di
Indonesia, krisis bahan bakar utamanya bahan bakar minyak (BBM) tak henti
menghantui negara kita. Masih ingatkah dengan wacana pemerintah menganai kenaikan
BBM Maret 2012 lalu yang membuat geger masyarakat? Pemerintah pada saat itu merasa
kuwalahan memberi subsidi terhadap impor BBM yang permintaannya melonjak tajam
melebihi kuota dan membebani APBN sehingga satu – satunya opsi ampuh yang dapat
ditempuh yaitu dengan menaikkan harga bahan bakar. Namun tekanan dari
masyarakat akhirnya membuat pemerintah mengurungkan niatnya. Masyarakat Indonesia
sangat bergantung pada energi yang satu ini, energi yang menjadi roda kehidupan
sehari – hari serta kemudahan memperoleh menjadi faktor yang membuat masyarakat
Indonesia semakin konsumtif.
Contoh – contoh diatas menujukkan
bahwa bumi terus dieksploitasi isi perutnya guna memenuhi kebutuhan mahluk
hidup yang tak terhingga batasannya. Sementara perhatian yang kita berikan
rasanya berbanding timpang dengan sederetan manfaat yang telah bumi berikan
bagi kita. Sudah waktunya kita merubah pola pikir, tidak sekedar bagaimana melakukan
penghematan demi tujuan efisiensi, tetapi juga berhemat demi tercapainya
efektifitas. Kemampuan bumi, terutama dalam menyuplai energi yang suatu saat
nanti akan mencapai titik henti seharusnya menjadi refleksi bagi kita semua
dalam menciptakan energi terbarukan sebagai alternatif atas energi yang tidak
dapat diperbaharui dimana jumlahnya kian menipis. Hemat energi merupakan cara
paling sederhana yang bisa dilakukan oleh kita semua. Yang terpenting adalah
komitmen untuk senantiasa menjaga kelestarian dari kita untuk bumi tercinta. Selamat
Hari Bumi Internasional
Salam Hijau!
Referensi:
Tidak ada komentar:
Posting Komentar